Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Masjid Agung Sang Cipta Rasa Di Cirebon


Inilah Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon, Konon, masjid ini adalah masjid tertua di Cirebon, Sejarah mencatat dibangun sekitar tahun 1480 M atau semasa dengan Wali Songo menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, Masjid agung ini pada awalnya bernama Masjid Pakungwati, mengikuti nama keraton yang dahulu bernama Keraton Pakungwati, Nama masjid ini diambil dari kata "sang" yang bermakna keagungan, "cipta" yang berarti dibangun, dan "rasa" yang berarti digunakan, Inilah juga masjid yang dibangun oleh para wali pada masa Sunan Gunung Jati memerintah sebagai sultan pertama di Kesultanan Cirebon. Pada lokasi mihrab, terdapat tiga buah batu tegel lantai khusus yang dulu dipasang oleh Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.

Konon, dahulunya masjid Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini memiliki memolo atau kemuncak atap. Namun, saat azan pitu (tujuh) salat Subuh digelar untuk mengusir Aji Menjangan Wulung, kubah tersebut pindah ke Masjid Agung Banten yang sampai sekarang masih memiliki dua kubah. Karena cerita tersebut, sampai sekarang setiap salat Jumat di Masjid Agung Sang Cipta Rasa digelar Azan Pitu. Yakni, azan yang dilakukan secara bersamaan oleh tujuh orang muazin berseragam serba putih.

Menurut tradisi, pembangunan masjid Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon ini dikabarkan melibatkan sekitar lima ratus orang yang didatangkan dari Majapahit, Demak, dan Cirebon sendiri. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsiteknya. Selain itu, Sunan Gunung Jati juga memboyong Raden Sepat, arsitek Majapahit yang menjadi tawanan perang Demak-Majapahit, untuk membantu Sunan Kalijaga merancang bangunan masjid tersebut.

sembilan pintu yang menyimbolkan Wali Songo. Pintu masuk ke bangunan utamanya yang sungguh kecil membuat Anda harus membungkuk untuk masuk, inilah filosofi penghormatan untuk masuk ke rumah Allah. Konon, Masjid Agung Sang Cipta Rasa adalah pasangan dari Masjid Agung di Demak. Di masa ketika pembangunan Masjid Agung Demak dilakukan, Sunan Gunung Jati meminta izin untuk membangun pasangannya di Cirebon. | Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Sejarah Adzan Pitu Di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

Masjid Sang CiptaRasa Cirebon juga mempunyai keunikan tersendiri. Setiap hendak salat Jumat, 7 orang muazin akan mengumandangkan adzan secara bersamaan. Kumandang suara azan oleh tujuh orang muazin dikenal dengan ‘Azan Pitu’. Tradisi Azan Pitu, telah dilakukan secara turun temurun sejak lima ratus tahun lalu. Dahulu, azan pitu dilantunkan setiap waktu salat, namun kini hanya dilakukan pada saat salat Jumat saja, pada azan pertama. | Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon.

Tidak ada ada naskah tertulis yang bisa dijadikan acuan sejarah asal usul dan alasan Sunan Kalijaga memulai tradisi azan pitu. Satu-satunya sumber resmi sejarah, hanyalah penuturan turun temurun dari pengurus masjid. Konon, menurut salah seorang pengurus masjid, tradisi azan oleh 7 muazin berawal dari adanya wabah penyakit yang melanda jemaah masjid ini di awal pendiriannya. Tradisi 7 azan ini diwariskan oleh Sunan Kalijaga saat mengusir wabah tersebut. “Namanya Satria Menjangan Wulung" semacam Leak kalau di Bali, suatu wabah penyakit yang dikirimkan orang yang tidak senang kepada masjid ini. Wabah tersebut membuat beberapa jamaah masjid terkena penyakit aneh dan akhirnya meninggal. Untuk mengatasi ini, Sunan Kalijaga, bermunajat dan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Hingga suatu ketika, Sunan Kalijaga meminta 7 orang untuk mengumandangkan azan dalam waktu bersamaan di dalam masjid tersebut. Alhasil, wabah penyakit ‘Satria Menjangan Wulung’ pergi dan terpental dari masjid bersamaan dengan meledaknya kubah masjid. Namun, sayangnya satu dari tujuh amir masjid tersebut meninggal. Menurut cerita, kubah masjid terbang dan mendarat di atas kubah Masjid Agung Banten. Sedangkan ‘Satria Menjangan Wulung’ terpental hingga Indramayu menjadi labu hitam. “Makanya ada larangan buat kita untuk memakan labu hitam". | Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon.

Menurut cerita, ketika awal pembangunan Masjid Agung Demak, Sunan Gunung Jati memohon izin untuk membuat pasangannya di Cirebon. Masjid Agung Demak mempunyai watak maskulin, sedangkan Masjid Agung Sang Cipta Rasa ini mewakili watak feminin. Tidak seperti masjid-masjid wali pada umumnya yang mempunyai bentuk atap tajug (berbentuk piramid) bersusun dengan jumlah ganjil, Masjid Agung Sang Cipta Rasa mempunyai bentuk atap limasan dan di atasnya tidak dipasang momolo (mahkota masjid). Selain azan pitu, tradisi yang sampai saat ini masih dilestarikan yakni khotbah yang menggunakan bahasa Arab. Meski tidak dimengerti, namun jamaah tetap khidmat dan khusyuk mendengarkan khotbah. | Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon


Secara umum aktivitas di masjid, selalu ramai oleh peziarah ketika malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon. Biasanya orang datang untuk berzikir dan tirakatan malam. Beberapa orang percaya akan mendapatkan keberkahan jika melaksanakan ibadah di masjid wali ini.

Sejarah Masjid Agung Sang Cipta Rasa


Keraton Kacirbonan Cirebon

Keraton Kacirbonan Di Cirebon


Keraton Kacirbonan : Lokasi Keraton Kacirebonan berada di Jl. Pulasaren, Kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, dengan halaman depan yang cukup luas, Kami datang ke Keraton Kacirebonan setelah meninggalkan Keraton Kanoman, tiba  di depan gapura pertama Keraton Kacirebonan, serta papan penanda Benda Cagar Budaya di sebelah kanannya yang menyebut tahun 1808 sebagai tahun berdirinya Keraton Kacirebonan. Pada dinding pilar gapura sebelah kanan menempel prasasti dalam huruf Jawa. Keraton Kacirbonan adalah pecahan dari Keraton Kanoman yang luasnya sekitar 2,5 hektar, Sejarah dibangunnya Keraton Kacirebonan memang tak lepas dari peperangan yang pernah berkecamuk di wilayah Cirebon, Kedudukan Cirebon yang berada pada bayang-bayang pengaruh Mataram. ketika Amangkurat I berkuasa dari tahun 1646 hingga 1677. Masa pemerin tahan yang ditandai dengan banyaknya pergolakan agaknya menjadi faktor penting mengapa Cirebon semakin menjadi lemah

Saat itu, tahun 1670, Belanda mulai memasuki kedaulatan Keraton Kanoman yang dipimpin oleh Pangeran Haerudhin. Hal ini ditentang oleh putra mahkota kesultanan yang tak lain adalah Pangeran Muhamad Haerudhin, Pangeran Muhamad Haerudhin melakukan perlawanan terbuka dengan Pemerintah Kolonial Belanda. Perlawanan ini mendapat reaksi yang positif dari masyarakat cirebon, sehingga perlawanan ini berlangsung sekurangnya 5 tahun. Pada tahun 1696 Pangeran Muhamad Haerudhin berhasil dilumpuhkan dan diasingkan ke Ambon, Maluku. Melihat keadaan Pangeran Haerudhin yang telah lanjut usia, maka pemerintah Kolonial Belanda secara sepihak (unilateral) mengangkat Pangeran Imammudin sebagai Sultan kanoman ke V. | Keraton Kacirbonan.

Semenjak diasingkannya pangeran Muhamad haerudhin ke Ambon, pemberontakan dan perlawanan rakyat Cirebon terhadap Kolonial Belanda semakin berkobar dan meluas hingga merambah daerah Indramayu. Di beberapa daerah muncul beberapa tokoh pejuang lokal yang angkat senjata melawan kolonial Belanda, seperti : 

1.    Ki Bagus Rangin ( Kedongdong, Palimanan)
     2.  Jaka Sembung  ( Hargeulis, Majalengka)

Melihat situasi yang tidak kondusif ditanah Cirebon maka pada tahun 1806, Pemerintah Kolonial Belanda mengembalikan kembali Pangeran Muhamad Haerudhin beserta pengikutnya untuk meredakan pergolakan rakyat Cirebon terhadap Belanda. Dikarenakan di Keraton Kanoman sudah duduk bertahta Pangeran Imammudin sebagai Sultan Kanoman ke V, maka pada tahun 1808 Pangeran Muhamad Haerudhin mendirikan Kesultanan Kacirebonan dengan gelar Sultan Carbon Amirul Mukminin. | Keraton Kacirbonan.

Berikut nama-nama Sultan yang pernah bertahta di Kesultan Kacirebonan :
     1.     Sultan Kacirebonan I
       Pangeran Carbon Amir Mukminin (1808-1814)
     2.     Sultan Kacirbonan II
       Pangeran Raja Madenda Hidayat (1814-1851)
     3.     Sultan Kacirebonan III
       Pangeran  Raja Madenda wijaya  (1851-1914)
     4.     Sultan Kacirebonan IV
       Pangeran Raja Madenda Partadiningrat (1914-1931)
     5.     Sultan Kacirebonan V
       Pangeran raja Madenda Raharjadiningrat (1931-1950)
     6.     Sultan Kacirebonan VI
       Pangeran Sidik Ardjadiningrat (1950-1956)
     7.     Sultan Kacirebonan VII
       Pangeran Harkat Natadiningrat (1960-1968)
     8.     Sultan Kacirebonan VIII
       Pangeran Madenda Mulyono  Amir Natadiningrat (1968-1994)
     9.     Sultan Kacirebonan IX
       Pangeran Raja Abdul Ghani Natadiningrat S.E (1994-Sekarang)
#Sultan Kacirebonan VII adalah adik dari Sultan Kacirebonan VI karena Sultan Kacirebonan VI tidak memiliki keturunan

Di Keraton kacirebonan juga terdapat upacara tradisi, seperti :
     1.     Muludan ( 12 Rabiul Awal)
     2.     Panjang Jimat ( Menyambut kelahiran Nabi Muhammad)
     3.     Rajaban ( 27 Rajab, Menyabut bulan suci Ramadhan)
    4.    1 Sura ( 1 Muharam, Menyambut Tahun Baru Islam)

Museum Keraton Kacirebonan

Seperti halnya Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, Kecirebonan pun tetap menjaga, melestarikan serta melaksanakan kebiasaan dan upacara adat seperti Upacara Pajang Jimat dan sebagainya, Bangunan Kacirebonan tidak termasuk tipologi arsitektural bangunan keraton. Bentuk bangunannya seperti bangunan pembesar pada zaman kolonial Belanda dengan pengaruh arsitektur Eropa yang kuat, serta Ruangan-ruangan bagian Keraton Kacirebonan menyimpan berbagai benda yang berkaitan dengan keraton serta agama Islam. Kitab dari zaman para wali hingga gamelan menjadi salah satu koleksi kuno yang dapat disaksikan saat berkunjung ke Keraton Kacirebonan yang sangat memikat mata ini, Benda-benda peninggalan Keraton Kacirebonan, seperti :
 1.   Gamelan
 2.   Alat Makan
 3.   Peralatan Perang
  

        Ulasan Singkat Keraton Kacirbonan Di Cirebon, Salah Satu Keraton Uanh Ada di Cirebon jangan Lupa Berkunjung Ke Cirebon yaa Kawan, Salam Cirebon Wisata "Keliling Cirebon Yuuu"


Keraton Kanoman Cirebon

Keraton Kanoman Di Cirebon 


Tidak seberapa jauh dari Keraton Kasepuhan terdapat sebuah Kraton lain bernama Keraton Kanoman Keraton Kanoman adalah salah satu dari dua bangunan kesultanan Cirebon, setelah berdiri keraton Kanoman pada tahun 1678 M kesultanan Cirebon terdiri dari keraton Kasepuhan dan keraton Kanoman yang merupakan pemimpin dan wakilnya. Kebesaran Islam di Jawa Barat tidak lepas dari Cirebon. Sunan Gunung Jati adalah orang yang bertanggung jawab menyebarkan agama Islam di Jawa Barat, sehingga berbicara tentang Cirebon tidak akan lepas dari sosok Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I pada sekitar tahun 1678 M. Keraton Kanoman masih taat memegang adat-istiadat dan pepakem, di antaranya melaksanakan tradisi Grebeg Syawal,seminggu setelah Idul Fitri dan berziarah ke makam leluhur, Sunan Gunung Jati di Desa Astana, Cirebon Utara. Peninggalan-peninggalan bersejarah di Keraton Kanoman erat kaitannya dengan syiar agama Islam yang giat dilakukan Sunan Gunung Jati, yang juga dikenal dengan Syarif Hidayatullah.

Kompleks Keraton Kanoman yang mempunyai luas sekitar 6 hektare ini berlokasi di belakang pasar Di Kraton ini tinggal sultan ke dua belas yang bernama Raja Muhammad Emiruddin berserta keluarga. Kraton Kanoman merupakan komplek yang luas, yang terdiri dari bangunan kuno. salah satunya saung yang bernama bangsal witana yang merupakan cikal bakal Kraton yang luasnya hampir lima kali lapangan sepak bola.

Di keraton ini masih terdapat barang barang, seperti dua kereta bernama Paksi Naga Liman dan Jempana yang masih terawat baik dan tersimpan di museum. Bentuknya burak, yakni hewan yang dikendarai Nabi Muhammad ketika ia Isra Mi'raj. Tidak jauh dari kereta, terdapat bangsal Jinem, atau Pendopo untuk Menerima tamu, penobatan sultan dan pemberian restu sebuah acara seperti Maulid Nabi. Dan di bagian tengah Kraton terdapat kompleks bangunan bangunan bernama Siti Hinggil. | Keraton Kanoman.

Hal yang menarik dari Keraton di Cirebon adalah adanya piring-piring porselen asli Tiongkok yang menjadi penghias dinding semua keraton di Cirebon. Tak cuma di keraton, piring-piring keramik itu bertebaran hampir di seluruh situs bersejarah di Cirebon. Dan yang tidak kalah penting dari Keraton di Cirebon adalah keraton selalu menghadap ke utara. Dan di halamannya ada patung macan sebagai lambang Prabu Siliwangi. Di depan keraton selalu ada alun alun untuk rakyat berkumpul dan pasar sebagai pusat perekonomian, di sebelah timur keraton selalu ada masjid.

Kesultanan Kanoman merupakan hasil pembagian kesultanan Cirebon kepada puteranya setelah meninggalnya pangeran Girilaya atau yang dikenal dengan nama Panembahan Ratu pakungwati II pada tahun 1666. Putera pangeran Girilaya masing-masing adalah Pangeran Raja Martawijaya yang kemudian memerintah kesultanan Kasepuhan yang berpusat di keraton Kasepuhan, Pangeran Raja Kartawijaya yang memerintah kesultanan Kanoman yang berpusat di Keraton Kanoman dan Pangeran Raja Wangsakerta yang menjadi Panembahan Cirebon yang bertugas dalam hal pendidikan putra-puteri keraton, Pangeran Raja Wangsakerta bertempat tinggal di keraton Kasepuhan dan membantu Pangeran Raja Martawijaya memerintah kesultanan Kasepuhan sebagai Sultan Sepuh I.

Masuknya pengaruh awal Belanda Kesultanan Kanoman resmi berdiri pada tahun yang sama dengan berdirinya kesultanan Kasepuhan yaitu pada tahun 1679 dengan pemimpin pertamanya yang bernama Sultan Anom I Pangeran Muhammad Badrudin Kartawijaya, pada tahun 1681, Belanda menawarkan perjanjian persahabatan kepada kesultanan Cirebon yang pada waktu itu telah dipecah menjadi dua yaitu Kasepuhan dan Kanoman yang kemudian ditandatangani pada tanggal 7 Januari 1681 perjanjian persahabatan yang dimaksud adalah untuk memonopoli perdagangan di wilayah Cirebon. | Keraton Kanoman.

Sultan Kanoman I Muhammad Badrudin Kartawijaya memiliki dua orang putera dari permaisuri yang berbeda, yaitu Pangeran Pengguron Kaprabon yang merupakan putera pertama dari permaisuri kedua yaitu Ratu Sultan Panengah dan Pangeran Raja Mandurareja Muhammad Qadirudin, putera keduanya yang berasal dari permaisuri ketiga yang bernama Nyimas Ibu. Setelah ayahandanya wafat, kedua puteranya ini sepakat untuk melakukan lijdelijk verzet (perlawanan diam-diam) melawan Belanda.

Kemudian Pangeran Raja Muhammad Qadirudin diresmikan sebagai Sultan Anom II keraton Kanoman dikarenakan saudaranya yaitu Pangeran Pengguron Kaprabon yang merupakan putera pertama Sultan Anom I dari permaisuri keduanya yaitu Ratu Sultan Panengah memutuskan untuk memperdalam ajaran agama Islam dan menyerahkan kepemimpinan keraton Kanoman kepada adiknya Pangeran Raja Mandurareja Muhammad Qadirudin.[4] Setelah menyerahkan kepemimpinan keraton Kanoman kepada adiknya, Pangeran Pengguron Kaprabon mendirikan Pengguron Kaprabonan pada tahun 1696 sebagai tempat pendidikan agama Islam. | Keraton Kanoman.

Perjuangan melawan penjajah Belanda dengan strategi lijdelijk verzet (perlawanan diam-diam) menemukan tantangan setelah Belanda membentuk sebuah Karesidenan (wilayah yang berada dibawah kekuasaan gubernur jendral pada waktu itu atau setingkat provinsi dimasa sekarang, dengan pimpinannya yang menjabat sebagai residen). Pada sekitar tahun 1700-an Belanda mengangkat Jacob Palm sebagai seorang residen untuk wilayah Cirebon, dalam bukunya sejarah cirebon, Pangeran Sulaeman Sulendraningrat bahkan mengatakan jika kekuasaan kesultanan-kesultanan di Cirebon telah habis sama sekali dengan adanya pengangkatan Jacob Palm. | Keraton Kanoman.

Perang terbuka Pangeran Raja Kanoman (Sultan Kacirebonan pertama) melawan penjajah, Pada sekitar tahun 1770-an, Sultan Muhammad Chaerudin menjadi pemimpin di kesultanan Kanoman dengan gelar Sultan Anom IV, dikatakan semenjak kekuasaan Sultan Anom I, Belanda telah berusaha menanamkan kekuasaannya kedalam keraton-keraton di Cirebon melalui perjanjian persahabatan yang berisi monopoli dagang Belanda serta dengan politik pendekatan persuasif kepada pihak-pihak di kesultanan dan tokoh-tokoh masyarakat, Putera Mahkota Kanoman (putera pertama Sultan Anom IV) pada waktu itu melakukan perlawanan terbuka terhadap belanda, masyarakat yang berjuang bersama diantaranya adalah Mirsa, yang melakukan perjuangan melawan penjajah Belanda pada tahun 1788 yang mendapatkan bantuan tokoh agama, namun perjuangan Mirsa dapat dipatahkan, perjuangan melawan penjajah kemudian berlanjut pada tahun 1793[6] dan akhirnya Pangeran Raja Kanoman berhasil ditangkap dalam perjuangannya melawan penjajah dan kemudian diasingkan ke Ambon pada sekitar tahun 1796. | Keraton Kanoman.

Perang besar Cirebon 1788 – 1818, Ketika Pangeran Raja Kanoman yang merupakan putera dari Sultan Anom IV Muhammad Chaerudin diasingkan ke Ambon, terjadilah pemberontakan rakyat Cirebon yang dipimpin Bagus Rangin pada tahun 1802, Bagus Rangin berasal dari demak, distrik Blandong, Rajagaluh (sekarang Rajagaluh menjadi kecamatan Rajagaluh, Majalengka) yang terletak di kaki gunung Ciremai, Bagus Rangin diperkirakan lahir sekitar tahun 1761. Dia adalah putra dari Sentayem (Ki buyut Teyom), cucu dari Waridah dan keturunan dari Ki buyut Sambeng, salah satu dari cicit pembesar didaerah tersebut atau dalam bahasa Cirebon disebut Ki Gede. Bagus Rangin mempunyai tiga orang saudara, kakaknya bernama Buyut Bangin dan kedua adiknya bernama Buyut Salimar serta Bagus Serit (Bagus Serit juga menjadi pejuang melawan penjajah). | Keraton Kanoman

Sifat Bagus Rangin digambarkan sebagai pemimpin yang gagah berani dan sanggup menyatakan perang dengan didukung oleh pengikutnya yang banyak.

secara garis besar kondisi perekonomian di pedesaan Cirebon dijelaskan bahwa desa-desa hampir secara keseluruhan disewakan kepada orang-orang Cina oleh para bupati dan residen. Penyerahan tenaga kerja, penyerahan pajak dan hasil pertanian penduduk dibeli dengan harga sangat rendah oleh residen. Kondisi sosial dijelaskan bahwa bencana kelaparan dan wabah penyakit sempat melanda Cirebon akhir abad 18, mengakibatkan banyak penduduk Cirebon meninggal dunia. Pada ditengah masa pemberontakan ini, Belanda mengirimkan Herman Willem Daendels sebagai Gubernur Jendral Hindia-Belanda yang tiba di Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1808 [10] yang memimpin dengan cara kediktaktoran.

Persoalan hak waris Sultan Kanoman ke empat, Sultan Anom IV Muhammad Chaerudin yang seharusnya diberikan kepada putera mahkotanya yaitu Pangeran Raja Kanoman yang telah diasingkan Belanda ke Ambon dianggap sebagai penyebab timbulnya pemberontakan. Rakyat melakukan pemberontakan dan mengidentifikasi diri dengan Sultan Kanoman yang tercabut hak warisnya (Pengeran Raja Kanoman yang dibuang dan sulit mengklaim haknya) . Para pemberontak ini berhasil dihimpun Bagus Rangin untuk melakukan pemberontakan yang lebih besar. Di daerah Jatitujuh, merupakan pusat gerakan Bagus Rangin dalam rangka membicarakan strategi perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. Bagus Rangin menganggap residen Belanda telah merampas tanah warisan nenek moyangnya, untuk digunakan sendiri oleh residen itu. |  Keraton Kanoman

Kembalinya Pangeran Raja Kanoman dan dibentuknya Kacirebonan :
Pemberontakan yang dilakukan oleh bagus Rangin meluas hingga keluar wilayah karesidenan Cirebon, namun ditengah perjuangan besar cirebon yang telah dimulai pada sekitar tahun 1788 oleh Mirsa dan Pangeran Raja Kanoman / Putera Mahkota Kanoman (putera pertama Sultan Anom IV) dan dilanjutkan oleh pejuang lainnya termasuk diantaranya Bagus Rangin yang telah memulai perjuangannya pada sekitar tahun 1802, dikarenakan perjuangan masyarakat cirebon melawan Belanda masih terus belangsung, maka pada tahun 1806 Belanda mengembalikan Pangeran Raja Kanoman ke Cirebon guna meredakan perjuangan yang terjadi. dalam bukunya Geschiedenis van Nederlandsch Indie, V Frederik Willem Stapel mengatakan,

“ sampai dengan tahun 1806 jumlah kaum pemberontak yang bersenjata telah mencapai sekitar 4000 orang. Pasukan yang langsung dipimpin oleh Bagus Rangin berjumlah antara 280-300 orang yang telah terlatih perang ”

namun karena di keraton Kanoman sudah bertahta Pangeran Raja Abu Soleh Immamudin yang merupakan adik Pangeran Raja Kanoman, maka akhirnya atas dasar kesepakan keluarga, Pangeran Raja Kanoman pada tahun 1808 mendirikan pendopo sendiri dengan nama Kacirebonan yang sekarang pusatnya berada di Pendopo Kacirebonan, sebagai pemimpin Kacirebonan Pangeran Raja Kanoman bergelar Sultan Carbon Amirul Mukminin, namun kembalinya Pangeran Raja Kanoman dan dibentuknya Pendopo Kacirebonan untuk Pangeran Raja Kanoman sebagai hasil kesepakatan keluarga besar kesultanan Kanoman dikarenakan di kesultanan Kanoman telah bertahta Sultan Anom V Pangeran Raja Abu Soleh Immamudin, tidak menyurutkan gerakan perjuangan yang sedang berlangsung.

Pada tahun 1809 Gubernur Jendral Herman Willem Daendels atau setahun setelah kedatangannya ke Hindia-Belanda, segera menetapkan berbagai langkah dan tindakan dalam rangka pengendalian wilayahnya yang ada di Jawa bagian barat, dua wilayah karesidenan (wilayah pembantu Gubernur Jendral) kemudian ditetapkan, | Keraton Kanoman.

Pertama, Batavia en Jacatrasche Preanger Regentschappen (Karesidenan Batavia dan Priangan-Jakarta) yang meliputi Batavia, Tangerang, Karawang, Bogor, Cianjur, Bandung dan Sumedang) Kedua, Kesultanan Cheribon en Cheribonsche-Preanger Regentschappen (Karesidenan kesultanan Cirebon dan Priangan-Cirebon), yang meliputi wilayah kesultanan Cirebon, Limbangan (sekarang bagian dari kabupaten Garut), Sukapura (sekarang bagian dari kabupaten Tasikmalaya) dan Galuh (sekarang kabupaten Ciamis dan kota Banjar)

Di daerah Cirebon, dikatakan Gubernur Jendral Herman Willem Daendels memperoleh hak untuk mengangkat pegawai kesultanan dan mendapat kekuasaan lebih besar dalam urusan keuangan dan pemerintahan internal kesultanan. sejak tahun 1809 dikatakan bahwa kesultanan-kesultanan yang ada di Cirebon tidak lagi memiliki kekuasaan politik karena telah dijadikam pegawai pemerintah Hindia-Belanda dan fungsi mereka sebagai kepala pemerintahan digantikan oleh para bupati yang diangkat oleh Gubernur Jendral, yang kemudian wilayah-wilayahnya diawasi oleh residen yang telah ditunjuk oleh pemerintah Belanda. | Keraton Kanoman.

Pemisahan kekuasaan kesultanan-kesultanan di Cirebon pada tahun 1809 bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Sepuh VII Sultan Djoharudin di kesultanan Kasepuhan, Sultan Anom V Pangeran Raja Abu Soleh Muhammad Immamudin di kesultanan Kanoman dan Sultan Kacirebonan I Sultan Carbon Amirul Mukminin di kesultanan Kacirebonan yang baru saja dibentuk dari hasil perundiangan keluarga untuk membagi kesultanan Kanoman.

Pada tahun 1810 Perancis dibawah pimpinan Napoleon Bonaparte melakukan aneksasi terhadap Belanda dan setelah kabar ini diterima oleh Gubernur Jendral Herman Willem Daendels, Gubernur Jendral kemudian melakukan pengibaran bendera Perancis, hal ini kemudian diketahui oleh Thomas Stamford Raffles dan mengunjungi Lord Minto Gubernur Jendral Britania di India untuk mengusir Belanda dari Jawa dan hal tersebut disetujui oleh Gubernur Jendral Britania untuk India - Lord Minto.

Menindaklanjuti rencana pengusiran Belanda maka pada sekitar tahun 1811 Pemerintah Britania atau yang dalam bahasa inggris disebut Britain (Penggabungan kerajaan Inggris, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara) yang menguasai India, Burma dan Semenanjung Melayu melakukan peperangan dengan pihak Hindia-Belanda, pasukan-pasukan Britania bahasa inggris (british : orang-orang britain) kemudian mulai mendarat di pelabuhan-pelabuhan Jawa pada tanggal 3 Agustus 1811, pada bulan yang sama tepatnya tanggal 26 Agustus 1811 perang besar antara Hindia-Belanda dan pihak Britania dimulai dan menghasilkan kekalahan Belanda, hasil peperangan tersebut membuat Belanda menyingkir ke Semarang sampai akhirnya Belanda dibawah Gubernur Jendral Jan Willem Janssens yang menggantikan Herman Willem Daendels pada bulan Mei 1811 menyerah kepada Britania di Salatiga dan menandatangani kapitulasi Tuntang. Kemenangan ini kemudian menjadikan Thomas Stamford Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur (bawahan Gubernur Jendral) untuk wilayah Jawa. | Keraton Kanoman.

namun adanya perang besar antara Hindia-Belanda dan Britania atau yang dikenal dengan nama perang jawa Britania-Belanda tidak begitu menguntungkan gerakan perjuangan ini, terbukti dengan ditemuinya kegagalan setelah Bagus Rangin dan para pengikutnya ditangkap oleh pemerintah Britania pada tahun 1811.

Akhir perang besar Cirebon :
Namun demikian, gerakan perjuangan rakyat Cirebon ini sempat muncul kembali di bawah pemimpin lainnya setelah Britania dibawah Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles memerintahkan langsung kepada Cirebon untuk menyingkirkan kekuasaan politik dari para sultannya, sehingga sultan hanya sebagai pemimpin adat dan agama saja, gerakan perjuangan tersebut ialan gerakan perjuangan tahun 1816 di bawah pimpinan Bagus Jabin dan gerakan perjuangan tahun 1818 di bawah pimpinan Nairem. Kedua perjuangan tersebut pun menemui kegagalan.

Pada tanggal 19 Agustus 1816, Jawa dikembalikan kepada Belanda dari Britania setelah berakhirnya perang Napoleon dan Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles meninggalkan Jawa dan kembali ke Inggris.

Pangeran Raja Muhammad Komarudin II dan Nona :
Pada tahun 1883 atau pada masa pemerintah Sultan Anom VI Muhammad Komarudin I Belanda mengangkat residen Cirebon yang baru bernama Jean Guillaume Landre yang oleh masyarakat Cirebon dikenal dengan nama Tuan Delamoor, Jean Guillaume Landre yang dipercaya sebagai warga Belanda keturunan Perancis sewaktu menjabat residen di Cirebon membawa juga anak perempuannya yang masih muda yang oleh masyarakat cirebon dikenal dengan nama Nona Delamoor. pada saat melakukan pertemuan kenegaraan dan pertemuan resmi yang dilakukan di kediaman residen cirebon, Sultan Anom VI Muhammad Komarudin I juga membawa putera tertuanya sekaligus putera mahkotanya yang pada masa itu disebut Pangeran Raja, kemudian karena sering bertemu pada acara-acara kenegaraan dan pertemuan resmi, maka antara Pangeran Raja dan nona Delamoor saling jatuh cinta, hingga akhirnya nona Delamoor dikabarkan hamil diluar nikah dan mengandung anak dari Pangeran Raja, karena takut akan ketahuan oleh ayahnya, nona Delamoor kemudian menutup-nutupi kehamilannya, kemungkinan karena kelahiran sang bayi yang tidak sempurna maka bayi ini meninggal, bayi kemudian dibungkus dengan pakaian yang serba indah dan berharga, dimasukan ke sebuah kandaga untuk kemudian dilarung ke laut. | Keraton Kanoman.

Kandaga berisi bayi yang telah meninggal tersebut kemudian ditemukan oleh nelayan, melihat bungkus pakaiannya yang serba indah dan berharga para nelayan menganggap bahwa bayi yang telah meninggal tersebut adalah milik orang yang dikeramatkan atau orang penting, kemudian bayi tersebut dikuburkan secara khidmat di dekat mercusuar cirebon, kurang lebih jaraknya 25 meter ke arah selatan.

Perubahan fisik nona Delamoor yang terlihat pucat dan sikapnya yang selalu berdiam diri membuat ayahnya Jean Guillaume Landre (tuan Delamoor) menanyakan keadaannya, kemudian nona Delamoor menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada ayahnya, mendengar peristiwa-peristiwa yang menimpa puterinya, Jean Guillaume Landre segera memerintahkan polisi dan militer Belanda untuk menangkap dan memenjarakan Pangeran Raja, namun hal tersebut ditangguhkan karena takut bahwa Cirebon akan melakukan pemberontakan, namun jika Pangeran Raja ditahan maka masyarakat luas akan mengetahui peristiwa tersebut. kemudian Jean Guillaume Landre mencari akal untuk menyeleseikan masalah ini dan Pernikahan antara Pangeran Raja yang kemudian naik tahta sebagai Sultan Anom VII Muhammad Komarudin II dengan nona Delamoor pun dilakukan sebagai bentuk penyeleseian, setelah pernikahan nona Delamoor mendapatkan gelar Ratu Sengkaratna.

Tak lama setelah pernikahan nona Delamoor memberikan Pangeran Raja (yang sudah naik tahta menjadi Sultan Anom VII Muhammad Komarudin II seorang putera yang diberi nama Pangeran Anta dan bergelar Pangeran Raja Carbon, Pangeran Anta dikatakan memiliki tekstur wajah yang mirip dengan ibunya yang berketurunan Perancis serta kulitnya pun putih.

Selang beberapa bulan dari kelahiran Pangeran Anta yang keturunan Perancis tersebut, Permaisuri Raja (perempuan berdarah bangsawan yang dinikahi raja) yaitu Ratu Raja Apsari juga melahirkan seorang putera yang kemudian diberi nama Pangeran Raja Dzulkarnaen, oleh para kerabat Kanoman, Pangeran Raja Dzulkarnaen dididik pelajaran keperwiraan untuk dipersiapkan sebagai pengganti ayahnya, dikarenakan menurut para kerabat yang mendukungnya, dia lebih pantas karena merupakan seorang putera yang dilahirkan dari Permaisuri Raja (perempuan berdarah bangsawan yang dinikahi raja) sementara Pangeran Anta dilahirkan dari nona Delamoor atau Ratu Sengkaratna yang bukan berdarah bangsawan, kemudian para pendukung Pangeran dzulkarnaen menghimpun kekuatan dari masyarakat untuk mendukung Pangeran Dzulkarnaen sebagai pewaris tahta ayahnya yang sah. Semakin dewasa, diantara Pangeran Anta dan Pangeran Dzulkarnaen terdapat sebuah pertentangan dan ketegangan yang serius diakibatkan oleh pendidikan yang diterima keduanya dari para pendukungnya yang menyatakan bahwa yang satu lebih berhak atas tahta ayahnya dibanding yang lain. Setelah Sultan Anom VII Muhammad Komarudin II meninggal dunia, terjadilah perebutan tahta antara keduanya, melihat perebutan tahta ini melibatkan masyarakat luas, residen Belanda di Cirebon pun meminta bantuan Gubernur Jendral, namun Gubernur Jendral menolak ikut campur dan menyarankan agar masalah pewaris tahta diserahkan kepada adat yang berlaku dimasyarakat dan digelar perundingan untuk menyeleseikannya. | Keraton Kanoman.

Hasil dari perundingan yang dilakukan adalah Pangeran Anta yang bergelar Pangeran Raja Carbon yang merupakan anak dari pasangan Sultan Anom VII Muhammad Komarudin II dengan nona Delamoor yang bergelar Ratu Sengkaratna mendapatkan hanya warisan kekayaan ayahnya saja, sementara Pangeran Raja Dzulkarnaen yang merupakan putera dari Permaisuri Raja mendapatkan tahta ayahnya dan bergelar Sultan Anom VIII Pangeran Raja Dzulkarnaen.

Dari kekayaan ayahnya, Pangeran Anta membangun sebuah tempat kediaman disebelah barat siti inggil keraton Kanoman dan tinggal disana hingga dia wafat, dan sekarang tempat tersebut dibangun menjadi kompleks Perguruan Taman Siswa.

Pada tahun 1921, Cirebon dirubah statusnya menjadi Gamentee Cheribon dikarenakan banyaknya peziarah yang datang ke makam bayi yang ada di dekat mercusuar dan telah menggangu ketertiban pelabuhan Cirebon, maka oleh pemerintah gamenteen Cheribon makam tersebut dipindahkan ke jalan kesambi, cirebon.

Surat wasiat Sultan Anom XI Pangeran Raja Adipati Muhammad Djalaludin :
Sultan Muhammad Djalaludin merupakan Sultan Anom XI, diketahui oleh masyarakat luas bahwa Sultan Anom XI Pangeran Raja Adipati Muhammad Djalaludin (alm) punya seorang anak perempuan dari istri pertamanya yang merupakan seorang Permaisuri Raja dan diberinama Ratu Raja Latifah, dari istri keduanya yang juga seorang Permaisuri dia tidak mendapatkan keturunan, dari Ny Suherni (ibu dari Pangeran Elang Mochamad Saladin) enam anak, dan dari Ratu Raja Sri Mulya (ibu dari Pangeran Raja Muhammad Emirudin) enam anak.
Sebelum meninggal pada tanggal 19 November 2002, Sultan Muhammad Djalaludin membuat sebuah surat wasiat agar putera tertuanya yaitu Pangeran Elang Mochamad Saladin yang merupakan anak dari pasangan Sultan Djalaludin dengan istri ketiganya Hj. Suherni yang berasal dari kalangan rakyat biasa dinobatkan menjadi Sultan Anom XII keraton Kanoman untuk menggantikan dirinya.[12] Hal tersebut dikarenakan hubungannya dengan istri pertamanya yang merupakan seorang permaisuri hanya melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Ratu Raja Latifah .

Munculnya surat wasiat dari Sultan Djalaludin yang menunjuk Saladin sebagai penerus tahtanya, kemudian ditentang oleh beberapa kelompok yang menghendaki Pangeran Raja Emiruddin yang merupakan putera kedua Sultan Djalaludin dari istri keempatnya yang merupakan seorang permaisuri yang bernama Ratu Raja Sri Mulya untuk menjadi Sultan. menanggapi hal tersebut, Pangeran Elang Mochamad Saladin berkata,

“ Emirudin itu saudara saya, umurnya delapan bulan lebih muda dari saya           ”

Pelantikan Pangeran Elang Mochamad Saladin sebagai Sultan Anom XII :
Pangeran Elang Mochamad Saladin kemudian dilantik di ruang jinem keraton Kanoman, Cirebon, Rabu malam tanggal 5 Maret 2003 sekitar pukul 20.30 WIB. Pelantikan itu mendahului rencana kubu Pangeran Raja Muhammad Emirudin yang sudah menyebar undangan, untuk "Jumenengan" Pangeran Raja Emirudin menjadi Sultan ke XII menggantikan Sultan Anom XI Hj Muhammad Djalaludin, yang rencanannya dilakukan Kamis siang tanggal 6 Maret 2013. Undangan Jumenengan Emirudin sudah disebar ke beberapa instansi dan media massa. | Keraton Kanoman

Proses penobatan Elang Muhammad Saladin, dilakukan oleh Pangeran Komisi, yakni Pangeran Amaludin (adik Elang Muhamad Saladin). Hadir dalam acara pelantikan Pangeran Hidayat Purbaningrat, Ketua DPRD Kota Cirebon H Suryana, Wakil Ketua DPRD Ir H Haries Sutamin, Ibunda serta adik-adik Saladin, upacara pelantikan berlangsung selama sekitar 10 menit, berjalan khidmat dan diakhiri dengan pembacaan doa demi keselamatan keluarga besar Keraton Kanoman.

Sementara itu, suasana di luar ruang jinem tampak hening, hanya beberapa orang saja yang terlihat secara samar di tengah temaram sorot lampu yang tidak terlalu terang di sekitar keraton. Padahal, di luar keraton, beberapa orang terlihat memasang umbul-umbul sebagai persiapan untuk dilakukannya penobatan terhadap Pangeran Raja Emirudin yang sedianya dilakukan hari Kamis 6 Maret 2013 pukul 14.00 WIB.

Usai pelantikan, Ratu Mawar Kartina, SH yang selama ini bertindak sebagai juru bicara keraton didampingi Pangeran Hidayat Purbaningrat mengatakan,

“pelantikan tersebut dilaksanakan untuk menjalankan wasiat almarhum Sultan Kanoman XI. "Apa pun hambatan yang akan dihadapi,"”

Menurut Ratu Mawar, penobatan Pangeran Elang Mochamad Saladin sebagai Sultan Anom XII pada awalnya akan dilakukan pada akhir bulan Maret 2013, namun hal itu harus dipercepat, hal tersebut terpaksa dilakukan, karena ada indikasi upaya untuk menggagalkan wasiat yang sudah diputuskan ayahandanya. | Keraton Kanoman.

Indikasinya menurut Ratu Mawar, sudah terlihat sejak surat wasiat itu dibuka, tepatnya 40 hari setelah wafatnya Sultan XI HM Djalaludin.

Di ruang jinem, Ketua DPRD Kota Cirebon H. Suryana yang didaulat membacakan sambutan mengatakan,

“ wasiat almarhum Sultan Kanoman XI HM Djalaludin mesti ditaati, sebab wasiat tersebut adalah titah sultan yang tidak boleh ditentang isinya, dan siapa pun yang ditunjuk menjadi sultan, tanpa melihat keturunan dari istri yang mana.”
H. Suryana berharap, keluarga besar Keraton Kanoman bisa bersama-sama menjaga keutuhan keraton dengan cara saling memahami satu sama lain.

Pelantikan Pangeran Raja Muhammad Emirudin sebagai Sultan Anom XII :
Pelantikan Pangeran Raja Muhammad Emirudin pada hari Kamis 6 Maret 2003 diwarnai kericuhan, kericuhan diawali dengan datangnya Ratu Mawar (adik Sultan Saladin). Dia membacakan maklumat bahwa penobatan Emirudin tidak sah dan menentang wasiat serta titah dari mendiang Sultan Kanoman XI. Setelah itu Ratu Mawar merebut tombak dari salah satu punggawa dan melemparkannya ke aparat keamanan.

Usai acara penobatan, sekelompok orang dari kubu Emirudin menghadang mobil yang ditumpangi Ratu Mawar dan pacarnya pada waktu itu Teddy Michael. Dengan emosi mereka memukul-mukul mobil tersebut sehingga kaca belakang rusak. Mereka mengecam aksi Ratu Mawar dan campur tangan Teddy yang tidak termasuk famili Kanoman. | Keraton Kanoman.

Pihak Sultan Emirudin sendiri mengklaim bahwa penobatannya didukung oleh 247 kerabat keraton lainnya. Dalam maklumat yang ditandatangani tiga sesepuh, Pangeran Redman Hakim, Pangeran Agus Djoni, dan Elang Machmudin tercantum bahwa demi menjunjung tinggi adat dan tradisi Keraton Kanoman maka ke-247 kerabat Keraton memilih Pangeran Emirudin sebagai Sultan Kanoman XII pengganti Sultan Kanoman XI.

Alasan utama maklumat tersebut adalah hukum adat istiadat dan tradisi yang menyebutkan Sultan Kanoman adalah putra pertama dari garwa ratu atau darah biru. Pangeran Redman Hakim, Pangeran Pangeran Agus Djoni, dan Elang Machmudin mengatakan'

“Oleh karena itu, penunjukan Saladin sebagai pengganti almarhum Djalaludin dalam surat wasiat yang ditinggalkan almarhum sangat bertentangan dengan adat dan tradisi, karena yang bersangkutan dari garwa ampean atau selir. Untuk itu secara otomatis segala hal yang menyimpang dianggap tidak ada da tidak berlaku ”

Silsilah :
- Sultan Anom I Muhammad Badrudin Kartawijaya
- Sultan Anom II Pangeran Raja Mandurareja Muhammad Qadirudin
- Sultan Anom III Pangeran Raja Adipati Muhammad Alimudin
- Sultan Anom IV Pangeran Raja Adipati Sultan Muhammad Chaeruddin
- Sultan Anom V Pangeran Raja Abu Soleh Muhammad Imammudin)
- Sultan Anom VI Muhammad Kamaroedin I
- Sultan Anom VII Muhamamad Kamaroedin II
- Sultan Anom VIII Pangeran Raja Muhamamad Dzulkarnaen
- Sultan Anom IX Pangeran Raja Adipati Muhamamad Nurbuat
- Sultan Anom X Pangeran Raja Adipati Muhamamad Nurus
- Sultan Anom XI Pangeran Raja Adipati Muhamamad Jalalludin
- Sultan Anom XII Pangeran Raja Muhamamad Emiruddin
- Sultan Anom XII Pangeran Elang Mochamad Saladin

Museum yang terdapat di Keraton Kanoman ini tidak memiliki jadwal kunjungan yang teratur. Pengunjung yang datang kesini harus melapor dan mengisi buku tamu dan pemandu akan membukakan pintu museum dan menemani pengunjung berjalan mengelilingi museum. Selesai mengunjungi Kraton Kanoman ada baiknya anda melihat-lihat Pasar Kanoman yang terletak persis di depan Kraton.




Pantai Kejawanan Cirebon

Pantai Kejawanan Di Cirebon

Berkunjung Pantai Kejawanan Cirebon, Salah satu Objek Wisata Di Cirebon ini memang sangat layak untuk dikunjungi, Berikut Uraian lengkap Tentang Pantai Kejawanan Cirebon  

Pantai Kejawanan Cirebon adalah salah satu Objek Wisata Alam pantai yang berada di wilayah Kota Cirebon, Jawa Barat, Indonesia. Pantai Kejawanan Cirebon adalah tempat Wisata Pantai, sekaligus merupakan tempat pengelolaan ikan (TPI Kejawanan) serta Wisata Terapi beralamat di Jln.Yos Sudarso Kota Cirebon ini terletak berdekatab dengan Pelabuhan Cirebon dan Ade Irma Traffic Garden Cirebon. Biaya masuknya pun hanya Rp.1.000 (seribu rupiah saja), untuk para pengguna kendaraan baik mobil pribadi maupun sepeda motor, sedangkan untuk para pejalan kaki sama sekali tidak dipungut tarif masuk. | Pantai Kejawanan

Bahwa menurutt masyarakat sekitar, Pantai Kejawanan dapat mengobati penyakit Selain tempat rekreasi, konon pantai Kejawanan ini digunakan sebagai tempat pengobatan berbagai macam penyakit, karena air pantai kejawanan tersebut yakini dapat menyembuhkan penyakit seperti reumatik, asam urat, diabetes, stroke, radang tenggorokan, penyakit kulit serta batuk yaitu dengan cara berendam di dalam air atau berkumur-kumur, Pengunjung percayai air di pantai Kejawanan memiliki manfaat untuk menyembuhkan orang sakit mulai penyakit kusta, penyakit kulit serta kelumpuhan.

Pantai Kejawanan merupakan salah satu potensi wisata yang dimiliki oleh kota Cirebon, namun sayang keberadaannya kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, kondisi pantai yang kurang terawat, dengan separuh view yang tertutup sebuah restoran sea food, mengurangi keindahan Pantai Kejawanan, namun walaupun begitu, rasa haus masyarakat akan obyek wisata alam, menjadikan Pantai Kejawanan selalu ramai dikunjungi pada hari-hari libur.

Kondisi Pantai Kejawanan yang landai dan dangkal menjadi daya tarik sendiri bagi para pengunjung, terutama anak-anak. Karena mereka dapat bermain air hingga agak ketengah pantai. Walaupu demikian, pengunjung juga tetap dituntut untuk selalu berhati-hati.Jika Kita Lapar dipinggir pantai kita bisa makan seafood dengan view ke arah laut.

Di Pantai Kejawanan ini selain kita bisa menikmati terbitnya matahari dengan posisi yang bagus, yaitu tepat ditengah-tengah pantai. Di sana juga kita bisa berwisata keliling pantai dengan menggunakan perahu motor milik nelayan, dengan tarif yang cukup murah yaitu seharga lima ribu Rupiah saja per orang, yang bahkan bisa di tawar hingga sebesar tiga ribu rupiah saja. Selain itu, disana juga banyak disewakan perahu karet dengan tarif mulai seharga lima ribu Rupiah hingga sepuluh ribu Rupiah per perahu setiap satu jamnya,saat libur lebaran/jika sedang beruntung kita bisa melihat kapal nelayan/kapal tunda karena letaknya dekat dengan Pelabuhan Cirebon dan kita bisa berfoto di atas perahu dan melihat nelayan membawa hasil laut.

Pada saat hari libur atau libur nasional ataupun libur umum, pengunjung akan membludak memadati Pantai Kejawanan. Banyak hal yang mereka lakukan Ada yang berenang, memancing ikan, mojok dengan pacar, sekedar ngobrol santai sambil menikmati semilir angin laut atau yang lainnya, di Pantai Kejawanan soal makanan tidak usah repot. Terdapat banyak warung sederhana di sana. Pengunjung bisa pesan apa saja sebagai penawar lapar. Sungguh menarik untuk dikunjungi Makam Pantai Kejawanan ini, bagi anda yang berkeinginan untuk berwisata murah bisa mencoba megunjunginya.

Bagi Kawan-kawan yang ingin berkunjung Ke Cirebon Pantai Kejawanan adalah Wisata  Alam pantai Yang Wajib Dikunjungi, Pesona Sunset, SunRise Serta Kuliner Sefood Dan Terapi Air nya untuk Kesehatan, ya itulah Pantai Kejawanan Cirebon.

Pantai Kejawanan
pantai kejawanan cirebon photos
pantai kejawanan cirebon jadi wisata pengobatan
Alamat pantai kejawanan cirebon

Gua Sunyaragi Cirebon

Taman  Gua Sunyaragi Cirebon

Gua Sunyaragi di Kota Cirebon tidak hanya menarik dikunjungi, tetapi juga memiliki mitos yang tidak sedikit. Komplek Gua Sunyaragi sendiri cukup besar. Ada bagian tertentu yang dipercaya bisa membuat enteng jodoh sampai sulit jodoh, Gua Sunyaragi atau juga disebut Taman Sari Gua Sunyaragi, merupakan tempat pertapaan sekaligus tempat penggemblengan tentara kesultanan Cirebon dahulu kala. Ketika Kami berkunjung ke Gua Sunyaragi pekan lalu, Memang Salah satu Objek Wisata Di Cirebon ini memang sangat layak untuk  dikunjungi, Berikut Uraian lengkap Tentang Taman Sari Gua Sunyaragi Cirebon :

Sejarah berdirinya Gua Sunyaragi memiliki dua buah versi, yang pertama adalah berita lisan tentang sejarah berdirinya Gua Sunyaragi yang disampaikan secara turun-temurun oleh para bangsawan Cirebon atau keturunan keraton. Versi tersebut lebih dikenal dengan sebutan versi Carub Kanda. Versi yang kedua adalah versi Caruban Nagari yaitu berdasarkan buku Purwaka Caruban Nagari tulisan tangan Pangeran Kararangen atau Pangeran Arya Carbon tahun 1720. Sejarah berdirinya gua Sunyaragi versi Caruban Nagari adalah yang digunakan sebagai acuan para pemandu wisata gua Sunyaragi. Menurut versi ini, Gua Sunyaragi didirikan tahun 1703 Masehi oleh Pangeran Kararangen, cicit Sunan Gunung Jati. Kompleks Sunyaragi lalu beberapa kali mengalami perombakan dan perbaikan.

Menurut Caruban Kandha dan beberapa catatan dari Keraton Kasepuhan, Tamansari dibangun karena Pesanggrahan Giri Nur Sapta Rengga berubah fungsi menjadi tempat pemakaman raja-raja Cirebon, yang sekarang dikenal sebagai Astana Gunung Jati. Hal itu dihubungkan dengan perluasan Keraton Pakungwati (sekarang Keraton Kasepuhan Cirebon) yang terjadi pada tahun 1529 M, dengan pembangunan tembok keliling keraton, Siti Inggil, dan lain-lain. Sebagai data perbandingan, Siti Inggil dibangun dengan ditandai candrasengkala Benteng Tinataan Bata yang menunjuk angka tahun 1529 M.

Gua Sunyaragi adalah merupakan salah satu benda cagar budaya yang berada di Kota Cirebon dengan luas sekitar 15 hektare, yang berlokasi di kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon, di sisi jalan by pass Brigjen Dharsono, dimana terdapat bangunan mirip candi yang disebut Gua Sunyaragi.

Konstruksi dan komposisi bangunan situs ini adalah merupakan sebuah taman air. Karena itu Gua Sunyaragi disebut taman air gua Sunyaragi. Pada zaman dahulu kompleks gua tersebut dikelilingi oleh danau yaitu Danau Jati. Lokasi dimana dulu terdapat Danau Jati saat ini sudah dalam kondisi mengering dan dilalui jalan by pass Brigjen Dharsono, sungai Situngkul, lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas, Sunyaragi milik PLN, persawahan dan menjadi pemukiman penduduk. Selain itu di gua tersebut banyak terdapat air terjun buatan sebagai penghias, serta hiasan taman seperti Gajah, patung wanita Perawan Sunti, Patung Garuda. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian penting dari keraton Pakungwati sekarang bernama keraton Kasepuhan.

Walaupun berubah-ubah fungsinya menurut kehendak penguasa pada zamannya, secara garis besar Tamansari Sunyaragi adalah taman tempat para pembesar keraton dan prajurit keraton bertapa untuk meningkatkan ilmu kanuragan. Bagian-bagiannya terdiri dari 12 antara lain :

•   Bangsal jinem sebagai tempat sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit
     berlatih.
•   Gua pengawal sebagai tempat berkumpul par apengawal sultan.
•   Kompleks Mande Kemasan (sebagian hancur).
•   Gua pandekemasang sebagai tempat membuat senjata tajam.
•   Gua simanyang sebagai tempat pos penjagaan.
•   Gua langse sebagai tempat bersantai.
•   Gua peteng sebagai tempat nyepi untuk kekebalan tubuh.
•   Gua arga jumud sebagai tempat orang penting keraton.
•   Gua padang ati sebagai tempat bersemedi.
•   Gua kelanggengan sebagai tempat bersemedi agar langgeng jabatan.
•   Gua lawa sebagai tempat khusus kelelawar.
•   Gua pawon sebagai dapur penyimpanan makanan.

Kompleks tamansari Gua Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bagian pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias, ruang ibadah dan dikelilingi oleh taman lengkap dengan kolam. Bangunan gua-gua berbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air. Bagian luar kompleks aku bermotif batu karang dan awan. Pintu gerbang luar berbentuk candi bentar dan pintu dalamnya berbentuk paduraksa.

Induk seluruh gua bernama Gua Peteng (Gua Gelap) yang digunakan untuk bersemadi. Selain itu ada Gua Pande Kemasan yang khusus digunakan untuk bengkel kerja pembuatan senjata sekaligus tempat penyimpanannya. Perbekalan dan makanan prajurit disimpan di Gua Pawon. Gua Pengawal yang berada di bagian bawah untuk tempat berjaga para pengawal. Saat Sultan menerima bawahan untuk bermufakat, digunakan Bangsal Jinem, akan tetapi kala Sultan beristirahat di Mande Beling. Sedang Gua Padang Ati (Hati Terang), khusus tempat bertapa para Sultan. | Gua Sunyaragi.

Gua Sunyaragi dilihat dari gaya atau corak dan motif-motif ragam rias yang muncul serta pola-pola bangunan yang beraneka ragam dapat disimpulkan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi merupakan hasil dari perpaduan antara gaya Indonesia klasik atau Hindu, gaya Cina atau Tiongkok kuno, gaya Timur Tengah atau Islam dan gaya Eropa.

Gaya Indonesia klasik atau Hindu dapat terlihat pada beberapa bangunan berbentuk joglo. Misalnya, pada bangunan Bale Kambang, Mande Beling dan gedung Pesanggrahan, bentuk gapura dan beberapa buah patung seperti patung gajah dan patung manusia berkepala garuda yang dililit oleh ular. Seluruh ornamen bangunan yang ada menunjukkan adanya suatu sinkretsime budaya yang kuat yang berasal dari berbagai dunia. Namun, umumnya dipengaruhi oleh gaya arsitektur Indonesia Klasik atau Hindu | Gua Sunyaragi

Pada Gua Sunyaragi Gaya Cina terlihat pada bunga seperti bentuk bunga persik, bunga matahari dan bunga teratai. Di beberapa tempat, dulu Gua Sunyaragi dihiasi berbagai ornamen keramik Cina di bagian luarnya. Keramik-keramik itu sudah lama hilang atau rusak sehingga tidak diketahui coraknya yang pasti. pada bangunan Mande Beling serta motif mega mendung seperti pada kompleks bangunan gua Arga Jumut memperlihatkan bahwa gua Sunyaragi mendapatkan pengaruh gaya arsitektur Cina. Selain itu ada pula kuburan Cina, kuburan tersebut bukanlah kuburan dari seseorang keturunan Cina melainkan merupakan sejenis monumen yang berfungsi sebagai tempat berdoa para keturunan pengiring-pengiring dan pengawal-pengawal Putri Cina yang bernama Ong Tien Nio atau Ratu Rara Sumanding yang merupakan istri dari Sunan Gunung Jati.

Secara visual, bangunan-bangunan di kompleks Gua Sunyaragi lebih banyak memunculkan kesan sakral. Kesan sakral dapat terlihat dengan adanya tempat bertapa seperti pada gua Padang Ati dan gua Kelangenan, tempat salat dan pawudon atau tempat untuk mengambil air wudhu, lorong yang menuju ke Arab dan Cina yang terletak di dalam kompleks gua Arga Jumut; dan lorong yang menuju ke Gunung Jati pada kompleks gua Peteng. Di depan pintu masuk gua Peteng terdapat patung Perawan Sunti. Menurut legenda masyarakat lokal, jika seorang gadis memegang patung tersebut maka ia akan susah untuk mendapatkan jodoh. Kesan sakral nampak pula pada bentuk bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Selain itu ada pula patung Haji Balela yang menyerupai patung Dewa Wisnu.

Pada tahun 1997 pengelolaan gua Sunyaragi diserahkan oleh pemerintah kepada pihak keraton Kasepuhan. Hal tersebut sangat berdampak pada kondisi fisik gua Sunyaragi. Kurangnya biaya pemeliharaan menyebabkan lokasi wisata Gua Sunyaragi lama kelamaan makin terbengkelai.

Tahun 1852, taman Gua Sunyaragi ini sempat diperbaiki karena pada tahun 1787 sempat dirusak Belanda. Saat itu, taman ini menjadi benteng pertahanan. Tan Sam Cay, seorang arsitek Cina, konon diminta Sultan Adiwijaya untuk memperbaikinya. Namun, arsitek Cina itu ditangkap dan dibunuh karena dianggap telah membocorkan rahasia gua Sunyaragi kepada Belanda. Karena itu, di kompleks Taman Sunyaragi juga terdapat patok bertulis ”Kuburan Cina”.

Pemugaran Tamansari Gua Sunyaragi pernah dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1937-1938. Pelaksanaannya diserahkan kepada seorang petugas Dinas Kebudayaan Semarang. Namanya, Krisjman. Ia hanya memperkuat konstruksi aslinya dengan menambah tiang-tiang atau pilar bata penguat, terutama pada bagian atap lengkung. Namun kadang-kadang ia juga menghilangkan bentuk aslinya, apabila dianggap membahayakan bangunan keseluruhan. Seperti terlihat di Gua Pengawal dan sayap kanan-kiri antara gedung Jinem dan Mande Beling.
Pemugaran terakhir dilakukan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Sejarah dan Purbakala, Direktorat Jenderal Kebudayaan, yang memugar Tamansari secara keseluruhan dari tahun 1976 hingga 1984. Sejak itu tak ada lagi aktivitas pemeliharan yang serius pada kompleks ini.

Bangunan tua ini hingga kini masih ramai dikunjungi orang, karena letaknya persis di tepi jalan utama. Tempat parkir lumayan luas, taman Gua Sunyaragi bagian depan mendapat sentuhan baru untuk istirahat para wisatawan. Terdapat juga panggung budaya yang digunakan untuk pementasan kesenian Cirebon. Namun keadaan panggung budaya tersebut kini kurang terurus, penuh dengan tanaman liar. Kolam di kompleks Taman Sari pun kurang terurus dan airnya mengering.

 Gua Sunyaragi Cirebon Taman Sari Gua Sunyaragi Cirebonsejarah gua sunyaragi taman air sunyaragi artikel gua sunyaragi




Keraton Kasepuhan Cirebon

Keraton Kasepuhan Di Cirebon 

Keraton Kasepuhan Cirebon adalah salah satu keraton di Cirebon juga kerajaan islam tempat para tokoh pendiri cirebon bertahta, disinilah pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon berdiri, Arti di setiap sudut arsitektur keraton ini juga terkenal paling bersejarah. Halaman depan Keraton Kasepuhan Cirebon ini dikelilingi oleh benteng tembok bata merah serta terdapat pendopo pada ruangan dalamnya.

Keraton Kasepuhan Cirebon merupakan salah satu dari bangunan peninggalan kesultanan Cirebon yang masih terawat dengan baik, seperti halnya keraton-keraton yang ada di wilayah Cirebon, bangunan keraton Kasepuhan menghadap ke arah utara .


Keraton Kasepuhan Cirebon, pada bagian dalam keraton ini terdiri dari bangunan utama yang berwarna putih, didalamnya terdapat ruang tamu, ruang tidur dan singgasana raja, Keraton Kasepuhan Cirebon memiliki museum yang cukup lengkap berisi benda pusaka serta lukisan sejarah masa lalu koleksi kerajaan. Salah satu koleksi benda Sejarah yaitu “Kereta Singa Barongmerupakan kereta kencana Sunan Gunung Jati”, KeretaSinga Barong tersebut pada saat ini tidak lagi digunakan dan hanya dikeluarkan pada tiap tanggal  01 Syawal untuk dimandikan.

Keraton Kasepuhan adalah salah satu dari bangunan peninggalan kesultanan Cirebon yang sampai pada saat masih terawat dengan baik, seperti halnya keraton-keraton lainnya yang ada di wilayah Cirebon, Keraton Kasepuhan ini bangunannya menghadap ke arah utara
Alun-alun Keraton Kasepuhan berada di depan bangunan keraton, pada zaman dahulu alun-alun tersebut “ Sangkala Buana” yang digunakan untuk latihan keprajuritan yang biasa dilaksanakan pada hari Sabtu atau istilahnya pada saat waktu itu adalah Saptonan yang juga sebagai titik central tata letak kompleks pemerintahan keraton. alun-alun inilah dahulunya diselenggarakan berbagai pentas perayaan kesultanan, dan sebagai tempat rakyat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman dari Sultan.
Keraton Kasepuhan didirikan pada tahun 1452 oleh Pangeran Cakrabuana. Ia bersemayam di Dalem Agung Pakungwati, Cirebon. Keraton Kasepuhan dulunya bernama 'Keraton Pakungwati. Sebutan Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang menikah dengan Sunan Gunung Jati. Beliau wafat pada tahun 1549 dalam Mesjid Agung Sang Cipta Rasa dalam usia yang sangat tua. Nama Beliau diabadikan dan dimuliakan oleh nasab Sunan Gunung Jati sebagai nama Keraton yaitu Keraton Pakungwati yang sekarang bernama Keraton Kasepuhan.


Sebelum memasuki gerbang komplek Keraton Kasepuhan terdapat 2 (dua) dua buah pendopo, di sebelah barat disebut Pancaratna yang pada zaman dulunya adalah tempat berkumpulnya para punggawa - punggawa Keraton, lurah atau pada zaman sekarang disebut pamong praja. Sedangkan pendopo sebelah timur disebut Pancaniti adalah tempat para perwira keraton ketika dilaksanakannya latihan keprajuritan di alun-alun.


Struktur bentuk Keraton yang menghadap utara dengan bangunan Masjid di sebelah barat dan pasar di sebelah timur dan alun-alun ditengahnya merupakan model tata letak keraton pada zaman itu terutama yang terletak di daerah pesisir. Bahkan sampai sekarang, Struktur ini banyak diikuti oleh seluruh kabupaten dan kota terutama di wilayah Jawa yaitu di depan gedung pemerintahan terdapat alun-alun serta di sebelah baratnya terdapat masjid.

Di dalam jalan kompleks Keraton Kasepuhan di sebelah kiri terdapat bangunan yang cukup tinggi dengan tembok bata kokoh disekelilingnya. Bangunan ini bernama Siti Inggil atau dalam bahasa Cirebon sehari-harinya adalah lemah duwur yaitu tanah yang tinggi. Sesuai dengan namanya bangunan ini memang tinggi dan nampak seperti kompleks candi pada zaman Majapahit. Bangunan ini didirikan pada tahun 1529, pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

Di pelataran Keraton Kasepuhan depan Siti Inggil terdapat meja batu berbentuk segi empat tempat bersantai. Bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang dibuat pada tahun 1800-an. Siti Inggil memiliki dua gapura dengan motif bentar bergaya arsitek zaman Majapahit. Di sebelah utara bernama Gapura Adi sedangkan di sebelah selatan bernama Gapura Banteng. Dibawah Gapura Banteng ini terdapat Candra Sakala dengan tulisan Kuta Bata Tinata Banteng yang jika diartikan adalah tahun 1451.

Saka yang merupakan tahun pembuatannya (1451 saka = 1529 M). Tembok bagian utara komplek Siti Inggil masih asli sedangkan sebelah selatan sudah pernah mengalami pemugaran/renovasi. Di dinding tembok kompleks Siti Inggil terdapat piring-piring dan porslen-porslen yang berasal dari Eropa dan negeri Cina dengan tahun pembuatan 1745 M.

Di dalam Keraton Kasepuhan kompleks Siti Inggil terdapat 5 bangunan tanpa dinding yang memiliki nama dan fungsi tersendiri. Bangunan utama yang terletak di tengah bernama Malang Semirang dengan jumlah tiang utama 6 buah yang melambangkan rukun iman dan jika dijumlahkan keseluruhan tiangnya berjumlah 20 buah yang melambangkan 20 sifat-sifat Allah SWT. Bangunan ini merupakan tempat sultan melihat latihan keprajuritan atau melihat pelaksanaan hukuman.

Bangunan Keraton Kasepuhan di sebelah kiri bangunan utama bernama Pendawa Lima dengan jumlah tiang penyangga 5 buah yang melambangkan rukun islam. Bangunan ini tempat para pengawal pribadi sultan. Bangunan di sebelah kanan bangunan utama bernama Semar Tinandu dengan 2 buah tiang yang melambangkan Dua Kalimat Syahadat. Bangunan ini adalah tempat penasehat Sultan/Penghulu.

Di belakang bangunan utama bernama Mande Pangiring yang merupakan tempat para pengiring Sultan, sedangkan bangunan disebelah mande pangiring adalah Mande Karasemen, tempat ini merupakan tempat pengiring tetabuhan/gamelan. Di bangunan inilah sampai sekarang masih digunakan untuk membunyikan Gamelan Sekaten (Gong Sekati), gamelan ini hanya dibunyikan 2 kali dalam setahun yaitu pada saat Idul Fitri dan Idul Adha.

Selain 5 bangunan tanpa dinding terdapat juga semacam tugu batu yang bernama Lingga Yoni yang merupakan lambang dari kesuburan. Lingga berarti laki-laki dan Yoni berarti perempuan. Bangunan ini berasal dari budaya Hindu, dan di atas tembok sekeliling kompleks Siti Inggil ini terdapat Candi Laras untuk penyelaras dari kompleks Siti Inggil ini.

Keraton Kasepuhan berserta keraton Kanoman, ditetapkan menjadi objek vital yang harus dilindungi. Penilaian tersebut berdasarkan pertimbangan dari institusi kepolisian, dengan adanya penilaian tersebut maka kepolisian setempat wajib menempatkan personilnya untuk melakukan penjagaan di keraton tersebut, termasuk diantaranya keraton Kasepuhan.

“ diantara pertimbangannya yakni keraton merupakan situs sekaligus aset bukan hanya kesultanan tetapi juga negara dan masyarakat kota Cirebon, sehingga harus dijaga dan diamankan kelestariannya (Dani Kustoni - Kapolres Cirebon Kota)  ”

Sebagai bentuk realisasi pengamanan objek vital, maka keraton harus dijaga oleh personil kepolisian Pengamanan, 2 personil, Patroli 2 personil, Pengamanan kegiatan keraton, minimal 10 personil (khusus untuk pengamanan kegiatan  yang berskala besar, maka diadakan pengamanan penuh yang melibatkan lebih banyak personil kepolisian).

dijadikannya keraton Kasepuhan sebagai objek vital disambut baik oleh Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat, menurut Sultan Sepuh XIV, penetapan keraton sebagai objek vital merupakan sebuah tanda atau pengakuan akan pentingnya keraton itu sendiri.

“ Selain sebagai aset, keraton juga kan banyak didatangi wisatawan baik lokal maupun mancanegara - (Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat) “
           
Pada masa kepemimpinan Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji, Sultan Sepuh V melakukan banyak perbaikan pada kompleks Taman sari Gua Sunyaragi yang digunakan sebagai tempat mengkhusukan diri kepada Allah swt sekaligus markas besar prajurit kesultanan dan gudang serta tempat pembuatan senjata, disamping Taman sari Gua Sunyaragi, kesultanan Kasepuhan memiliki markas prajurit lainnya, yaitu di desa Matangaji yang sekarang masuk dalam wilayah administrasi kecamatan Sumber, kabupaten Cirebon. Aktifitas yang ada di Taman sari Gua Sunyaragi kemudian menarik perhatian Belanda untuk kemudian menyerangnya, Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji pun gugur pada tahun 1786, tidak lama setelah wafatnya Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji, saudara sultan yaitu Pangeran Raja Hasanuddin menggantikan dirinya untuk memimpin kesultanan Kasepuhan, sementara Taman sari Goa Sunyaragi hanya tinggal puing-puing akibat penyerangan Belanda. | Keraton Kasepuhan Cirebon

Pada tahun 1852, Pangeran Adiwijaya yang kelak menjadi wali bagi Pangeran Raja Satria, membangun kembali dan memperkuat Taman air Gua Sunyaragi, dia memperkjakan seorang aristek beretnis tionghoa, namun kemudian arsitek tersebut ditangkap dan dipaksa mengatakan seluk-beluk Taman air Gua Sunyaragi kepada Belanda untuk kemudian dibunuh. Terbongkarnya aktifitas di Taman air Gua Sunyaragi membuat Pangeran Adiwijaya memerintahkan kepada para bawahan dan para prajurit untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, akhirnya keputusan diambil untuk mengungsikan seluruh persenjataan dan para prajurit keluar dari Taman air Gua Sunyaragi, sehingga penyerangan Belanda yang terjadi kemudian tidak mendapatkan apa-apa. 

Aturan adat mengenai Pengangkatan Sultan Aturan adat atau dalam bahasa Cirebon disebut pepakem mengenai pengganti sultan telah diatur dan dicontohkan semenjak didirikannya kesultanan Cirebon, menurut sejarah kesultanan Cirebon telah mencontohkan pengangkatan pemimpin atau sultan berdasarkan aturan Islam atau syariah yakni :

•           beragama Islam
•           Laki-laki
•           Memiliki kecakapan
•           Tidak cacat jasmani dan rohani

contoh pengangkatan dengan yang sesuai dengan hukum syariah ini terlah terjadi pada saat Pangeran Cakrabuana memberikan kepemimpinan kesultanan Cirebon kepada Sunan Gunung Jati (anak dari Nyimas Rarasantang yang merupakan adik perempuan dari Pangeran Cakrabuana) dan bukan kepada anak laki-lakinya, hal tersebut karena Pangeran Cakrabuana melihat adanya kecakapan yang lebih didalam diri Sunan Gunung Jati untuk menggantikannya sebagai pemimpin kesultanan Cirebon. Sehingga adat yang berlaku dalam sistem pewarisan kepemimpinan di kesultanan Cirebon bukanlah mengutamakan sistem keturunan melainkan mengutamakan sistem syariah Islam yakni, harus laki-laki, memiliki kecakapan dan tidak memiliki cacat jasmani dan rohani | Keraton Kasepuhan

Aturan pengangkatan Sultan semasa penjajahan Belanda

“ Pada 28 Nopember 1867 Residen Cirebon ditugaskan menegaskan kepada Pangeran Raja Satria selaku putra sah yang tertua dari Sultan Sepuh terakhir pada waktu itu bahwa pengangkatannya selaku Sultan Sepuh setelah ada berita wafatnya Pangeran Adiwijaya (pangeran Syamsudin IV) yang melakukan perbaikan pada Gua Sunyaragi tahun 1852[4]. selaku volmacht atas beheer Kasepuhan Cirebon ”

Pada masa pemerintahan penjajahan Belanda, pemerintah Belanda memberitahukan surat penetapan dari Raja Belanda mengenai aturan tentang penerus tahta atau kepemimpinan kesultanan harus putera kandung yang tertua selama yang bersangkutan tidak menyalahgunakan gelar tersebut.[5]. Penetapan Raja Belanda pada surat rahasia dari Menteri Jajahan Jean Chr├ętien Baud tanggal 23 Maret 1844 tersebut mengenai gelar Sultan harus diwariskan kepada putera sulung yang sah, diperkuat dengan telegram dari Gubernur Jendral Pieter Mijer pada tahun 1871. | Keraton Kasepuhan

“memberitahukan kepada Residen Cirebon untuk menegaskan kepada ketiga cabang keluarga Sultan - Sultan di Cirebon, yaitu Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan, bahwa penerus gelar sultan harus sesuai asal keturunannya, sesuai bakat, tekad baik dan menunjukan bukti kecakapannya, rajin dan berkelakuan baik (ijver en goedgedrag)”

Ketetapan yang dipergunakan oleh Raja Belanda tersebut mengikuti aturan yang biasa berlaku di eropa yang disebut sebagai sistem salic yakni hanya keturunan laki-laki yang sah yang berhak mewarisi tahta. aturan sejenis sistem salic yang dipergunakan di eropa ada juga yang disebut sebagai sistem semi-salic sistem ini tetap mengutamakan keturunan sebagai acuannya, sistem semi salic mengatakan jika tidak ada keturunan laki-laki yang sah untuk mewarisi tahta maka anak perempuan juga dapat menjadi pewaris tahta.
Penggunaan sistem salic pada kesultanan-kesultanan di Cirebon bertentangan dengan sistem syariah yang telah lama digunakan pada kesultanan Cirebon, dimana sistem syariah mengutamakan kecakapan atau kemampuan seorang calon pemimpin dan bukan mengutamakan garis keturunan seperti yang ditetapkan oleh Raja Belanda. | Keraton Kasepuhan Cirebon
Silsilah
Pada masa kesultanan Cirebon
•   Sunan Gunung Jati (Syarief Hidayatullah) (bertahta dari 1479 - 1568)
•   P. Adipati Pasarean (P. Muhammad Arifin) (hidup dari 1495 - 1552)
•   P. Dipati Carbon (P. Sedang Kamuning) (hidup 1521 - 1565)
•   Panembahan Ratu Pakungwati I (P. Emas Zainul Arifin) (bertahta dari 1568 - 1649)
•   P. Dipati Carbon II (P. Sedang Gayam) (-)
•   Panembahan Ratu Pakungwati II (Panembahan Girilaya) (bertahta dari 1649 - 1666)
  Setelah pembagian kesultanan Cirebon, Kasepuhan dipimpin oleh anak pertama Pangeran Girilaya yang bernama Pangeran Syamsudin Martawidjaja yang kemudian dinobatkan sebagai Sultan Sepuh I

•   Sultan Sepuh I Sultan Raja Syamsudin Martawidjaja (bertahta dari 1679 - 1697)
•   Sultan Sepuh II Sultan Raja Tajularipin Djamaludin (bertahta dari 1697 - 1723)
•   Sultan Sepuh III Sultan Raja Djaenudin (bertahta dari 1723 - 1753)
•   Sultan Sepuh IV Sultan Raja Amir Sena Muhammad Jaenuddin (bertahta dari 1753 -
•   Sultan Sepuh V Sultan Sepuh Sjafiudin Matangaji (bertahta dari 1773 - 1786)
•   Sultan Sepuh VI Sultan Sepuh Hasanuddin (bertahta dari 1786 - 1791) bertahta
     menggantikan saudaranya Sultan Sepuh V Sultan Sjafiudin Matangaji
•   Sultan Sepuh VII Sultan Sepuh Djoharudin (bertahta dari 1791 - 1815)
•   Sultan Sepuh VIII Sultan Sepuh Radja Udaka (Sultan Sepuh Raja Syamsudin I) (bertahta
     dari 1815 - 1845 menggantikan saudaranya Sultan Sepuh VII Sultan Djoharuddin
•   Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman (Sultan Sepuh Raja Syamsudin II) (bertahta dari
     1845 - 1853)
•   Perwalian oleh Pangeran Adiwijaya bergelar (Pangeran Syamsudin IV) (menjadi wali bagi Pangeran Raja Satria dari 1853 - 1871)
•   Pangeran Raja Satria (memerintah dari 1872 - 1875) mewarisi tahta ayahnya Sultan Sepuh IX Sultan Radja Sulaeman sebagai putera tertua Sultan Sepuh IX yang sah, setelah meninggalnya walinya yaitu Pangeran Adiwijaya sesuai dengan penegasan Residen Belanda untuk Cirebon tahun 1867
•   Pangeran Raja Jayawikarta (memerintah dari 1875 - 1880) menggantikan saudaranya Pangeran Raja Satria
•   Sultan Sepuh X Sultan Radja Atmadja Rajaningrat (bertahta dari 1880 - 1885) diangkat sebagai Sultan untuk menggantikan saudaranya yaitu Pangeran Raja Jayawikarta
•   Perwalian oleh Raden Ayu (Permaisuri Raja) menjadi wali bagi Pangeran Raja Adipati Jamaludin Aluda Tajularifin dari 1885 - 1899
•   Sultan Sepuh XI Sultan Sepuh Radja Jamaludin Aluda Tajularifin (bertahta dari 1899 - 1942)
•   Sultan Sepuh XII Sultan Sepuh Radja Radjaningrat (bertahta dari 1942 - 1969)
•   Sultan Sepuh XIII Pangeran Raja Adipati DR.H. Maulana Pakuningrat. SH (bertahta dari 1969 - 2010)
•   Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat. SE (bertahta dari 2010 - sekarang).

Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon