Ki Kandeg Padmajawinata Seniman Cirebon

Ki Kandeg Padmajawinata Seniman Serba Bisa Dari Cirebon

Bagi masyarakat Cirebon khususnya para pecinta seni tradisi topeng Cirebon mendengar nama Mang Kandeg bukanlah hal yang asing. Sosok seniman ini pada dekade 70-an begitu sangat akrab dikalangan seniman seangkatannya. Kandeg dilahirkan di desa Mayung, tanggal 5 April 1907, sejak kecil sudah ditinggal ayahnya dan menjadi yatim, sehingga pada saat masa sekolah di VERVOLG SCHOOL (Sekolah Rakyat) hanya dapat mengikuti proses pendidikannya hingga kelas  IV.

Bakat dalam  bekesenian Kandeg pada masa kecil sudah nampak karena kakeknya Ki Sarwut dilanjutkan kepada ayahnya Darma Rum adalah seorang dalang Wayang kulit. Kandeg merasa bangga dapat mewarisi keahlian yang diwarisi dari leluhurnya sehingga ia tidak mennyia-nyiakan titis waris menjadi seniman turunan langsung dari orang tuanya atau dapat pula disebut sebagai seniman turunan dalang. Kemahiran Ki Kandeg dalam kiprahnya di dunia kesenian pada waktu itu patut diacungi jempol, hal ini dikarenakan bakat kreatiftas berkesenian Ki Kandeg dikatagorikan sebagai seniman serba bisa. Disamping bakatnya dalam dunia pedalangan, Ki Kandeg dapat juga mengerjakan beberapa ketrampilan lain seperti menari topeng, karawitan, mengukir dan menyungging. Sehingga pada suatu kesempatan Ki Kandeg atas kiprahnya oleh keraton Kasepuhan Cirebon dianugrahi gelar Ngabehi sehingga namanya bertambah menjadi Ki Ngabehi Kandeg Padmajawinata. Ketrampilan Ki Kandeg dalam dunia kesenian Cirebon sudah barang tentu tidak serta merta tumbuh begitu saja, kemahirannya selain didukung oleh garis keturunan, kematangan berkaryanya disentuh juga oleh tangan-tangan senimar mashur di Cirebon.

Semangat belajar Ki Kandeg rupa-rupanya sangat dipengaruhi oleh filosofi yang tertanam dalam dirinya yaitu belajar sepanjang hayat, ini ditunjukan dengan adanya beberapa catatan biografi Ki Kandeg dibalik ketrampilannya yang luar biasa ternyata pernah digembleng oleh para maestro terkenal di bidangnya masing- masing.  Menurut Ragil Soeripto seorang peneliti asal Solo, Ki Kandeg pernah berguru kepada beberapa orang seniman besar di Cirebon diantaranya belajar mendalang Wayang kepada Ki Kencar dari desa Sitiwinangun, belajar tari topeng kepada ayah Nyi Dasih anak dari Ki Wentar, belajar tatah sungging Wayang kepada Ki Dana di Sitiwinangun, belajar membuat topeng (kedok) kepada bapak Rini dari desa Kepodang, belajar menggambar kepada kakanya Cardi, belajar mebuat Wayang Cepak kepada Ki Mastar, Memahat dipelajarinya dari Ki Abubakar dan belajar seni Karawitan dari Ki Alwi di desa Leuwimunding Majalengka. Dengan demikian maka wajar jika ketrampilan Ki Kandeg ini menjadi kuat karena proses belajarnya begitu sangat lengkap.

Kiprah Ki Kandeg dalam seni topeng Cirebon tercatat pula pernah bergabung dengan beberapa grup ternama di Cirebon seperti Ki Resna, Kenes, Nyi Sutarmi,  bahkan pada tahun 1926 pernah mengamen bersama Ki Wentar hingga ke luar wilayah Cirebon.  Kegiatan ini menurutnya sebagai bentuk mengadu untung pentas di luar daerah sambil menunggu saat panen tiba. Bersama Ki Wentar dalam kegiatan ngamen itu Ki Kandeg sempat mengajar tariKeuseus di kediaman Kanjeng Dalem Bandung, Cianjur dan Tasikmalaya.

Pada tahun 1987 Ki Kandeg memasuki masa usia senja sekitar 78 tahun, dalam hidupnya sudah tidak terhitung lagi berapa banyak karya seni yang pernah dibuat, kebesaran karyanya banyak mewarnai kancah dunia kesenian khususnya Cirebon bahkan hingga ke mancanegara. Namun sangat disayangkan keberadaan seniman tradisi dimata pemerintah pada kesempatan itu masih kurang  memperhatikan nasib seniman tradisi, apalagi terhadap keberadaanya yang sudah ujur.  Ditengah serba keterbatasannya diusia lanjut beberapa media pernah mendokumentasikan perjalan kesetiannya terhadap kesenian Cirebon.  Dalam sebuah surat kabar keberadaan Ki Kandeg pada dekade 80-an tengah mengalami masa-masa sulit.   Ki Kandeg tinggal di sebuah tempat tinggal yang sangat sederhana di Desa Suranenggala Lor, Kabupaten Cirebon.  Tubuhnya tergolek lemah disamping sisa-sisa karyanya yang sebagian teronggok begitu saja.  Kondisi tubuhnya yang kian rapuh dan seharusnya pada usia seperti inilah semestinya sudah dapat memetik segala impian dan melihat gererasi penerusnya dapat mewarisi ketrampilannya.  Namun pada kenyataannya diuasianya yang renta itu dia harus terus berkarya, karena anggapannya  jika berhenti berkarya maka keadaan dapur untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak bida ngepul. Sehingga apa boleh buat ditengah-tengah ditenaganya yang tidak seperti dulu Ki Kandeg harus konsiten berkarya.

Popularitas Ki Kandeg dalam berkarya seni khususnya seni ukir kedok sudah tidak diragukan lagi, hasil karya ukirnya dahulu semasa jayanya tergolong memiliki kwalitas sangat baik, dimata kolektor karya Ki Kandeg seolah-olah memancarkan rasa magis yang dapat mengetarkan jiwa. Bahkan semasa Ibu Suji seorang maestro Topeng Cirebon masih berkiprah, kedok karya Ki Kandeg seakan identik dengan penari ini.  Pada masa populernya Nyi Suji inilah ketenaran karya-karya Ki Kandeg menjadi terkenal. Keberadaan Ki Kandeg terus makin memudar diera 80-an, apalagi setelah koleganya Nyi Suji wafat terlebih dahulu.  Nasib kuarang mengutungkan ini ia terima karena itu adalah suatu kenyataan, Ki Kandeg menerima pasrah dan tidak mengharapkan sesuatu yang berlebihan.  Harapannya pada saat itu meminta untuk menjaga dan melestarikan seni topeng Cirebon jangan sampai musnah terkubur bersama jasadnya.

Harapan Ki Kandeg rupa-rupanya tidak sia-sia, setelah beliu wafat, ada beberapa orang sebagai generasi penerus belau yang  mencintai kesenian Cirebon.  Proses pewarisannya disamping langsung oleh keturunannya, ternyata Ki Kandeg memiliki murid yang tidak kalah mahirnya dengan Ki Kandeg.  Salah satu putra Ki Kandeg yang  yang pernah mengeluti keterampilan tersebut adalah Ki Tamsur Hadisumarto, walaupun bakat yang dimiliki Ki Tamsur ini tidak semahir Ki Kandeg itu sendiri.  Namun sangat disayangkan satu-satunya putra Ki Kandeg ini tidak secara total mengeluti profesi sebagai seorang seniman akan tetapi sebagai tenaga pengajar bahkan sempat menjadi Kepala Sekolah di Kota Cirebon.  Bakat menari Ki Tamsur ini pada tahun 1996 sempat pula digali dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Keraton Kasepuhan bersama SMKI Pakungwati dalam sebuah kegiatan Saresehan bertajug “ Menyingkap Tari Cirebon”.  Kegiatan diikuti oleh seluruh seniman se- Wilayah tiga Cirebon, dengan mengundang beberapa seniman besar dibidang tari Cirebon sebagai nara sumbernya, di samping Ki Tamsur sebagai turunan langsung dari Ki Kandeg.
  
Disamping Ki Tamsur yang wewarisi ketrampilan seperti Ki Kandeg, terdapat bebertapa anak murid lain yang tingkat penguasaan ketrampilannya hampir sepadan dengan Ki Kandeg misalnya Ki Kamad  dan Ki Sujana Priya.  Dua orang ini rupa-rupanya berkeinginan kuat untuk melanjutkan pesan yang diharapkan oleh almahum Ki Kandeg.  Sujana Priya itu sendiri adalah murid Ki Kandeg yang konsisten dengan idialisme Ki Kandeg, gaya membuat kedok, penguasaan terhadap seni karawitan, keterampilan menari, hingga menguasai tembang macapat dia peroleh dari Ki Kandeg. Hingga kini sosok Sujana Priya seolah olah merupakanreinkarnasi dari sosok Ki Kandeg. Kwalitas karya Ki Sujana Priya dalam membuat kedok dapat dikatakan memiliki tingkat ketrampilan yang hampir sama dengan Ki Kandeg. Kemahiran Ki Sujana Priya dibidang seni lainnya disamping membuat kedok, adalah kemampuan menari dan menggarap drama Wayang Wong Gaya Cirebon.  Ketiga keterampilan inilah yang pada akhirnya menjadi satu kesatuan yang utuh dalam seni tradisi Cirebon, apalagi ditambah dengan kemahiran memainkan musik gamelan khas Cirebon maka sosok Ki Sujana ini seolah-olah mejelma menjadi pewaris Ki Kandeg Padmajawinata.

Prestasi Ki Sujana Priya dalam berkesenian hingga kini sudah tidak diragukan lagi. Dalam beberapa kegiatan sosok ini senantiasa tampil di beberapa event baik tingkat Kabupaten, Profinsi hingga ketingkat Nasional telah digelar.  Aktifitas kelancaran pentas ini berkat dukungan pemerintah daerah yang member tempat dan keleluasaan berkarya di sanggarnya grup Purwagalih. Aktifitasnya Ki Sujana kini masih memproduksi seni kriya kedok, ukiran, karawitan hingga melatih drama Wayang Wong gaya Cirebon.  Keberhasilan Ki Sujana Priya dalam kancah kesenian Cirebon tentu merupakan buah dari ketekunan dirinya, namun atas peran dan sentuhan tangan terampil Ki Kandeg juga lah Ki Sujana Priya dapat menjadi sosok seniman handal.  Semoga jasa dan semangat almarhun Ki Kandeg senantiasa terus menggelora di dada seniman generasi penerusnya.
  
Salah satu  Karya Tulis Karya Ki Kandeg Padmajawinata

SILSILAH KETURUNAN KI KANDEG PADMAJAWINATA

KI SARWUT

KI. H. DARMA RUM

NYI RUMINI  ( Dalang Topeng )

KI KANDEG PADMAJAWINATA

AHMAD KUSWARI SUMEDJAH
  
MOH. TAMSUR HADISUMARTO

SAMSU   AH. SADRA

"Penulis : Bapak Waryo, S.Sn"


Urban Food Festival 2015 Cirebon

Urban Food Festival 2015 Di Cirebon

Urban Food Festival 2015 Cirebon Acara tahunan berkonsep kuliner yang diselengggarakan oleh Univeristas Untag Prima (Manajement Perhotelan), cukup banyak menarik pengunjung tepat pada hari ini Sabtu 30 Mei 2015 jam 19.30 WIB, Area di alun-alun Kita Cirebon tepatnya di sepanjang Jalan Siliwangi dari depan pintu Alun-alun sampai dengan Depan Hotel Proma Cirebon. 

Ada beberapa stand dari perusahaan-perusahaan yang sudah siap di stand-stand nya melayani pengujung yang sekedar bertanya-tanya atau bahkan langsung membeli produk yang pada acara tersebut karena memang bebagai brand dari berbagai tak mau ehilangan moment mereka menyelanggarakan diskon besar-besaran pada event Urban Food Festival 2015 Cirebon.
Acara ini dibuka dan diresmikan pada hari sabtu ini 30 Mei 2015  jam 06.00 WIB, langsung oleh Pemerinah Daerah Kota Cirebon dan berakhir/ditutup pada hari minggu tanggal 31 Mei 2015  jam 21.00 WIB, Anda yang ini berkunjung berikut kami sampaikan sususan acara Urban Food Festival 2015 Cirebon.

30 Mei 2015
di Radiant Hall
1. 06.00-07.00 Prepare for opening and competition
2. 07.00-07.30 Make sure for plated dessert all set
3. 07.30-09.00 Her-registration
4. 09.00-09.30 Plated Dessert
5. 09.30-12.30 Break and set up for semnar
6. 12.30-12.40 Opening Speech
7. 12.40-12.50 Opening ceremony
8. 12.50-15.30 Seminar
9. 15.15-15.30 Preparation for food festival

30 Mei 2015
di Jl. Siliwangi
10. 15.15-15.30 Preparation for food festival
11. 15.30-15.45 Last check for stall
12. 15.30-15.40 Opening speech
13. 16.00-16.10 Traditional Dance
14. 16.10-16.20 Set up for band
15. 16.20-16.40 Band Performance
16. 16.40-17.00 Band Performance
17. 17.00-17.10 MC Speech
18. 17.10-17.30 Dance kontemporer
19. 17.30-19.10 Break
20. 19.10-19.20 MC
21. 19.20-19.40 After break
22. 19.40-20.10 Fashion Show
23. 20.10-20.30 Band Performance
24. 20.30-21.10 Guest Star
25. 21.10-Onwards Clossing day 1

31 Mei 2015

26. 09.20-09.30 Opening day 2
27. 09.30-10.30 Cooking demo
28. 10.30-10.50 Check Sound for band
29. 10.50-11.10 Band Performance
30. 11.10-11.20 B-Boys
31. 11.20-11.40 Band Performance
32. 11.40-12.00 DJ/Music
33. 12.00-15.10 Break
34. 15.10-15.20 MC
35. 15.20-15.40 Band Performance
36. 15.40-15.50 Modern Dance
37. 15.50-16.10 Modern Dance
38. 16.10-16.30 Band Performance
39. 16.30-19.10 Break
40. 19.10-19.20 MC
41. 19.20-19.30 Traditional music
42. 19.30-19.50 B-Boys
43. 19.50-20.10 Band Performance
44. 20.10-20.40 Auction
45. 20.40-21.00  Band Performance
46. 21.00-Onwards Closing    

Urban Food Festival 2015 Cirebon Acara event tahunan di Kota Cirebon yang memang sangat layak dikunjungi, salam Wisata Cirebon.

  Urban Food Festival 2015 Di Cirebon

Syrup Tjampolay Cirebon

Syrup Tjampolay Khas Cirebon

Syrup Tjampolay Cirebon : Rasanya yang khas membuat jenis minuman oleh-oleh khas cirebon ini banyak dicari disaat para wisatawan berkunjung ke cirebon, untuk dijadikan buah tangan dibawa pulang, rasanya memang benar-benar unik tidak sama dengan jenis minuman syrup pada umumnya, dan memang syrup tjampolay hanya bisa anda temukan di Cirebon.

Dengan tampilannya yang sangat Klasik dikemas pada botol kaca ukuran 630 ml gambar logo nya pun hanya dengan kertas putih menempel pada botol, tak heran karena Syrup Tjampolay Cirebon ini diproduksi sejak tahun 1930 buah hasil sosok Tan Tjek Tjiu (seorang Thionghoa) usaha kuliner yang sempat turun naik ini hingga pada tahun 80an bangkit kembali melanjutkan perjuangan wirausahanya.

Perjuangan pengusaha Syrup Tjampolay Cirebon membuahkan hasil, terbukti hingga saat ini menjadi salah satu produk syrup kenamaan bukan hanya di lingkup kota cirebon saja tapi sudah meluas tersedia pada toko oleh-oleh khas berbagai kota-kota dan Kabpoaten di Propinsi Jawab Barat, bahkan susah tersedia juga di roko oleh-oleh di berbagai kota-kota besar di seluruh Indonesia, dengan tidak melupakan identitas khas daerah asalnya yaitu di Kota Cirebon.

Syrup Tjampolay Cirebon Dengan pilihan rasa yang bervariatif, yaitu : Rasa rozen rose,  Asam Jeruk, Nanas, Pisang Susu, Melon, Leci, Mangga Gedong, Jeruk Nipis Dan Kopi Moka, yang pada awalnya hanya menyediakan 3 (tiga) Varian rasa saja, rasa yang paling terkenal dan banyak  adalah rasa Pisang Susu, Jeruk Nipis dan Kopi Moka, karena memang saya (penulis) juga sangat menyukasi ketiga rasa tersebut.

Syrup Tjampolay Cirebon biasanya syrup ini banyak sekali dicari pada saat menjelang bulan ramadhan (puasa), karena memang syrup tjampolay merupakan sebagai varian menu pada saat berbuka puasa dan pada hari raya juga  Syrup Tjampolay Cirebon menjadi salah satu minuman yang banyak dibeli untuk buah tangan mengunjungi sanak saudara (silaturahmi) pada saat moment maaf-memaafkan.

Anda penasaran ingin merasakan Syrup Tjampolay Cirebon kesegarannya, bilamana anda sedang berada di Kota Cirebon anda menukan syrup ini di berbagai toko oleh-oleh kgas cirebon, dengan kisaran harga 17.000,- sampe dengan 20.000,-\botol, atau kami (cirebonwisata.com) juga siap melayani anda bilamana anda ingin membeli Syrup Tjampolay Cirebon , dan kami siap mengirim ke tempat anda. 

Jika berkunjung ke Cirebon janga lupa beli     

Syrup Tjampolay Cirebon